Senin, 19 Desember 2011

DESA LEGOKJAWA KEC. CIMERAK KABUPATEN PANGANDARAN


Pantai Legokjawa saat ini mengalami  abrasi pantai sepanjang 200 meter, dikarenakan oleh adanya pasang yang begitu besar di bulan ini. adapun faktornya dikarenkan tidak adanya benteng atau tanggul yang menghalangi daratan pantai legokjawa. Abrasi sepanjang 200 meter tersebut mengikis bibir pantai sepanjang 2 meter, sehingga mengakibatkan rusaknya jalan lintas pantai legokjawa dan menyebabkan beberapa pohon lindung pantai roboh. sampai saat ini belum adanya perhatian dari pemerintah setempat, sehingga di khawatirkan abrasi ini akan terus terjadi dan mengikis bibir pantai lebih jauh lagi. saat ini sekitar 0,5 meter lebar jalan lintas pantai sudah terkikis, sehingga jalan tersebut tidak bisa dilintasi oleh kendaraan roda 2.
kami sebagai warga Desa Legokjawa, mengharapkan bantuan dari Pemerinta Daerah Kabupaten untuk segera ditanggulangi agar bencana tersebut tidak merambat, dan dapat ditangani secara cepat tanggap.


"SUNSET" PANTAI LEGOKJAWA NAN INDAH

indahnya melihat pemandangan ketika terbitnya matahari di Panatai Legokjawa, yang membuat kita lebih dekat kepada sang Kholik.

Di Desa Legokjawa diselenggarakan Pacuan Kuda Nasional

di legokjawa biasa diadakan kegiatan Pacuan Kuda Nasional yang biasa di laksanakan pada Tahun Baru dan setelah Hari Raya Idul Fitri, untuk tahun ini akan dilaksanakan pada tanggal 1 & 2 Januari 2011. kalau anda berminat untuk nonton silahkan datang saja ke legokjawa, ayoo..............

PANTAI LEGOKJAWA


tempat wisata yang indah tapi belum tersentuh oleh Dinas Parawisata

Jumat, 16 Desember 2011

Pemerintah Harus Buka Jalur Penerbangan ke Pangandaran

Pemerintah Harus Buka Jalur Penerbangan ke Pangandaran
Sabtu, 17 Desember 2011 04:55 WIB | Dibaca 61 kali
Pemerintah Harus Buka Jalur Penerbangan ke Pangandaran
Association of The Indonesia Tours & Travel Agencies (Asita) Jabar berharap Pemprov Jabar membuka kembali jalur penerbangan ke kawasan Pangandaran yang sudah lama ditutup. Pasalnya, keberadaan jalur penerbangan tersebut sangat diharapkan wisatawan asing.

"Karakter wisatawan dari Asia hampir sama dengan wisatawan domestik, sangat menginginkan kenyamanan saat menuju objek wisata di kawasan selatan Jabar. Mereka sedikit enggan menggunakan jalan darat," kata Sekretaris Eksekutif Asita Jabar, Dewi Anggraeni saat ditemui di sela-sela pembukaan pameran Gerakan Nonblok di Gedung Merdeka, Jln. Asia Afrika Bandung, Rabu (14/12).

Dikatakan, wisatawan Asia sangat berbeda dengan wisatawan asing dari kawasan Eropa dan Amerika. Selain membutuhkan kenyamanan dan kecepatan, waktu liburnya sangat singkat, hanya satu sampai dua minggu, sehingga kecepatan ke tempat tujuan wisata sangat diperlukan.

Disebutkan, waktu libur wisatawan dari Eropa dan Amerika sangat panjang, bisa 40 hari. Sehingga, mereka tidak mempermasalahkan menggunakan jalan darat menuju objek wisata di kawasan Pangandaran maupun selatan Jabar lainnya.

"Rata-rata wisatawan asing yang datang ke kawasan Pangandaran 500 hingga 1.000 orang, bahkan lebih setiap bulannya. Namun yang paling banyak wisatawan dari Eropa, Australia, dan Amerika," katanya. Sumber Galamedia

Saat ini, satu-satunya maskapai penerbangan yang melayani route Bandung - Pangandaran dan Jakarta Pangandaran adalah Susi Air dengan menggunakan pesawat kecil. Bandara Nusawiru yang tidak terlalu besar membuat pesawat besar tidak dapat mendarat di bandara yang terletak sekitar 20 km dari Pantai Pangandaran ini. Diawal tahun 2005, Merpati Airlines pernah membuka jalur ke Pangandaran, penerbangan ini hasil kerjasama dengan Pemerintah propinsi.

Pangandaran dan Cijulang Simpan Cadangan 500.000 ton Pasir Besi

Pangandaran dan Cijulang Simpan Cadangan 500.000 ton Pasir Besi
Oleh Adi SumaryadiKamis, 15 Desember 2011 05:14 WIB | Dibaca 104 kali
Pangandaran dan Cijulang Simpan Cadangan 500.000 ton Pasir Besi
Selain menjadi pusat wisata di Jawa Barat, ternyata Pangandaran dan Cijulang merupakan tempat penyimpanan cadangan komoditi pertambangan berupa pasir besi, jumlahnyapun tidak sedikit yaitu sekitar 500.000 ton pasir besi. Dikutip dari situs BKPM atau Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia mencantumkan Pangandaran dan Cijulang sebagai salah satu tempat di Ciamis selatan yang menyimpan potensi itu.

Keberadaan pasir besi ini memang membuat permasalahan baru dimana masyarakat sangat tidak setuju dengan penambangan pasir besi, alasanya adalah merusak lingkungan dan merusak jalan utama sepanjang Pangandaran Cijulang. Pengalaman memang menunjukan kebenaran akan hal itu, puluhan kilometer jalan rusak akibat beratnya beban akibat dilalui truk-truk pengangkut pasir besi. Bahkan beberapa saat yang lalu, Bupati Ciamis menyetujui salah satu operator pertambangan untuk memulai penambangan didaerah kalipucang dengan berbagai pesyaratan seperti perawatan jalan hingga pengangkutan lewat jalur laut.

Banyak komentar muncul setelah penerbitan izin itu, beberapa pembaca setia myPangandaran menyampaikan juga pandangan mereka. "Tambang hanya biang masalah jangan pernah percaya iming-iming daari Perusahaan, yang nyata mereka hanya ingin mengeruk Keuntungan dari Tanah warga, justru wargalah yang dirugikan selain kesulitan air dampak dari Pertambangan Pasir besi akan dirasa pada warga , selain jalan rusak kekeringan dan kesulitan air " Ujar Saji Faturahman salahsatu warga Sidamulih.

Semua yang komentar sangat menyangkan akan penerbitan izin itu dan berharap bupati Ciamis dapat mengkaji ulang penerbitan izin itu. Pangandaran dan daerah lainnya di Ciamis selatan memang sangat potensial, namun harus dikelola dengan benar dan hati-hati apalagi yang berhubungan dengan lingkungan sehingga tidak akan merusak ekosistem dan lingkungan yang ada sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat yang berujung pada sebuah kesejahteraan.

Minggu, 04 Desember 2011

BERKAT PARTISIPASI MASYARAKAT YANG TINGGI, JALAN GANG DI CIMERAK LEBIH BAIK DARI JALAN PROVINSI

BERKAT PARTISIPASI MASYARAKAT YANG TINGGI, JALAN GANG DI CIMERAK LEBIH BAIK DARI JALAN PROVINSI

 Ciamis. Suatu kebanggaan tersendiri bagi warga masyarakat Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis, berkat Rekompak-JRF jalan-jalan gang di Cimerak lebih baik bila dibandingkan dengan jalan provinsi yang belakangan ini makin rusak karena dilewati truk pasir yang bermuatan lebih. Demikian dikatakan Obar Subarna, Camat Cimerak yang dituliskannya dalam buku tamu saat ia mampir di salah satu PP (Panitia Pembangunan) yang sedang mengerjakan rabat beton beberapa waktu lalu di Cimerak.
 Obar memang bukan sengaja datang atas undangan PP Rekompak-JRF. Waktu itu ia hendak menghadiri undangan salah satu warganya, namun diperjalanan ia melihat Kades Kertamukti beserta sejumlah warganya sedang mengerjakan rabat beton yang menurutnya tidak ada dalam agenda kecamatan. Lelaki yang selalu berpenampilan rapi ini lebih tercengang saat melihat dan mendengar langsung dari para pelakunya di lapangan. Dalam buku tamu  yang dituliskannya panjang lebar itu, Obar antara lain mengucapkan terima kasihnya pada Rekompak-JRF, bahwa berkat program Implementasi Bantuan Dana Lingkungan (BDL), jalan-jalan di gang sekarang lebih baik bila dibandingkan jalan provinsi. “Terima kasih BDL Rekompak, terus tumbuhkan semangat membangun desa melalui peningkatan gotong-royong dan swadaya masyarakat,” katanya.

Pernyataan ini diperkuat oleh Muhyat, Koordinator BKM Desa Kertamukti, yang berkat pengalamannya mengkoordinir tiga kali BDL dari Rekompak-JRF, sempat diberi kepercayaan untuk menggunakan Anggaran Dana Desa (ADD) untuk kegiatan sejenis di desanya. Awalnya ia sempat ragu saat desanya menawarkan dana yang peruntukannya untuk rabat beton di lokasi yang sering kena genangan itu. Sulit memang memanfaatkan dana yang ada dengan masyarakat yang tinggi, karena bayangan mereka pasti harus seperti rabat beton Rekompak-JRF, katanya ketika awal menerima “tantangan” itu. Namun berkat dorongan teman-teman di BKM, saya adakan rembug warga yang akhirnya memutuskan menerima tawaran itu, dengan catatan bahwa dananya hanya akan dipakai untuk membeli bahan material saja. Adapun untuk tenaganya, dalam rembug itu disepakati untuk dikerjakan dengan swadaya gotong royong sepenuhnya.

Selanjutnya, ayah yang telah mempunyai anak perempuan ini menjelaskan bahwa diawali dengan kegiatan Rekompak-JRF, swadaya dan semangat gotong-royong di masyarakat tumbuh kembali. Namun hambatan belum berakhir, ia tidak mau merugikan warganya yang sebagian besar mencari nafkah untuk kebutuhan hidup hari itu, hingga awalnya direncanakan kerja bakti masal setiap hari Jum’at saja. “Agar pekerjaan cepat selesai, kami yang siang hari tidak bisa ikut, bersedia kerja bakti malam hari sesudah sembahyang Isya, tiba-tiba salah seorang warga memberi jalan keluar seperti itu. Jadilah pekerjaan rabat beton yang polanya meniru Rekompak itu dikerjakan malam hari,” ujar pengusaha kelapa itu dengan bangga.
 Terkait dengan tumbuh bangkitnya semangat gotong-royong ini  juga dikemukakan Doris,  sekretariat BKM Desa Ciparanti yang juga di Kecamatan Cimerak. Ia menunjukkan contoh pembangunan jalan beton Dusun Cegak sepanjang 200 meter. Jika para pejabat proyek ini turun ke lapangan, rasanya dana Rp 40 juta itu mustahil cukup untuk membangun di wilayah Cegak yang terjal. Namun atas partisipasi masyarakat yang tinggi, pembangunan rabat beton itu dapat terlaksana, terutama jika harus menghitung ongkos angkut material ke lokasi. Dengan pengorganisasian yang baik dari PP Sampurna dibawah pimpinan Rohidin, semua bahan material diangkut secara estafet oleh warga dengan alat bantu ember. Berkat sosialisasi yang baik dari BKM dan PP, warga sadar akan pentingnya pembangunan jalan beton di sana. Sejumlah warga, laki-laki perempuan, tua muda, sejumlah ember berisi bahan material berpindah dari satu tangan ke tangan yang lainnya hingga tiba ditempat dari lokasi penurunannya di pinggir jalan besar. Jika dihitung dengan uang, besarnya swadaya masyarakat hanya untuk mengangkut barang itu saja sangat tinggi, kata lelaki bersahaja ini saat pelaksanaan evaluasi partisipatif Implementasi BDL Tahap 4 di Balai Desa Ciparanti awal Desember lalu. Kegiatan evaluasi partisipatif ini memang dimaksudkan untuk melihat kekurangan Implementasi BDL di termin pertama agar tidak terulang di pelaksanaan termin kedua berikutnya, atau dengan kata lain untuk melihat kesiapan masyarakat untuk mengelola dana berikutnya.

Agar pelaksanaan BDL terakhir ini berjalan baik, ke-5 Desa dampingan di tim-3 ini sepakat untuk menyusun pertanggungjawaban di akhir tiap tahapan. Berdasarkan data Sistem Informasi Manajemen (SIM) dapat dilihat bahwa desa-desa di Tim-3 ini memang menjadi desa-desa yang paling cepat melaksanakan Rembug Evaluasi Partisipatif, bahkan hampi disetiap kegiatan selalu lebih dulu bila dibandingkan dengan tim yang lainnya. Caca Witarsa, Junior Social Impact DMC Jawa Barat, yang sejak awal bergabung dengan Rekompak-JRF di Kawasan Pangandaran mengakui bahwa pengorganisasian internal Fasilitator Tim-3 termasuk yang paling solid dan tidak banyak gejolak. Demikian pula jika dilihat dari Social Impact dan pelaksanaan aspek pemberdayaannyapun, saat ini Tim-3 menjadi makin baik manakala Kasim Mahmod bergabung menjadi tenaga Fasilitator CD (Community Development) tambahan, ujar Caca mengakhiri pembicaraan. (ria_esha). (Sumber: Ari Hariadi – Community Development DMC Jawa Barat / Sosinfo – NMC Rekompak-JRF)